
Membaca kisah Nuh dan pembuatan Bahtera, sangat membingungkan
saya, dan rasanya, tidak masuk akal. Di dalam Kitab Kejadian 6:14-16
Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat
berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari
dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta
panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.
Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai
sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah
bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.
Pertanyaan saya:
1.
Secara akal manusia, tidak mungkin seorang Nuh mampu membuat bahtera
dengan ukuran yang begitu besar (panjang: 300 hasta=135 meter; Lebar:50
hasta=22,5 meter; 30 hasta=13,5 meter). Apakah ini mungkin?
2.
Ukuran yang begitu besar, peralatan pembangunan sederhana, membuat
tingkat bawah, tengah, atas dan berpetak-petak, sangat tidak masuk akal.
Bagaimana memahaminya?
3. Apakah kisah Nuh dan pembuatan bahtera hanya khayalan dari sang penulis kitab kejadian?
Terima kasih untuk penjelasannya?
Michael / Serpong-Tangerang
Saudaraku
yang kekasih, memang kisah bahtera Nuh memunculkan berbagai pertanyaan
dari perspektif modern. Perlu kehati-hatian untuk memahaminya dengan
benar. Dan, kita juga harus kembali meneropong kemasa empat hingga lima
ribu tahun yang lampau untuk bisa mengetahui keseluruhan kisah. Pertama,
apakah masuk akal seorang Nuh membuat bahtera dengan ukuran yang besar.
Harus diingat, Alkitab tidak ada mengatakan Nuh mengerjakannya seorang
diri, melainkan berjanji kepada Nuh secara pribadi (Kej 6:13), dan Nuh
mentataati perintah Allah untuk membuat bahtera. Data Alkitab mengatakan
Nuh memiliki tiga anak yang sudah menikah. Dalam Kej 6:9-22,
diceritakan Allah berbicara pribadi pada Nuh, tidak ada yang lain.
Tetapi sangat jelas bahwa istri, anak, dan mantu Nuh mengikuti apa yang
dikatakan Nuh. Artinya jelas, Nuh tidak bekerja seorang diri. Namun ini
berarti empat pria dengan empat wanita, apakah tenaga mereka cukup?
Dalam Matius 24:37-38, dikatakan bahwa ketika Nuh membuat bahtera, semua
aktifitas berjalan seperti biasanya. Mereka bekerja (makan, minum),
kawin dan mengawinkan.
Maka bukanlah hal yang mustahil bahwa ada
yang menerima order pekerjaan dari Nuh. Mereka menerima upah kerja dari
Nuh, namun tidak mau percaya. Itulah yang digambarkan Alkitab yaitu
menolak percaya. Bukan menolak bekerja untuk upah. Jadi, persoalan
pertama sudah kita selesaikan, ada banyak pekerja upahan yang tersedia,
Nuh bisa memakai jasa mereka, namun sekali lagi mereka menolak percaya
pada khotbah yang disampaikan Nuh. Perlu kita bedakan menerima
perkerjaan yang medatangkan uang dengan percaya pada khotbah sipemberi
kerja. Seorang pekerja non Kristen yang bekerja di gereja tidak berarti
dia harus percaya pada apa yang diajarkan di gereja bukan? Dia tetap
teguh dengan imannya, sekalipun dia menerima upah keja dari yang berbeda
iman.
Kedua, masalah soal peralatan dan teknik bekerja, apakah
mungkin? Dalam pasal berikut, Kejadian 11:1-9, menceritakan usaha
manusia membangun menara Babel yang tersohor. Peralatannya sederhana
dalam perspektif kita, tapi mereka bisa mengerjakannya, karena kita lupa
keunggulan tenaga dan penguasaan lapangan mereka. Menara Babel jauh
lebih rumit dari bahtera Nuh, berhasil didirikan. Bahtera Nuh secara
teknis umum berarti bahtera yang berkotak dan bertingkat. Sederhana
sekali. Jadi catatan Alkitab menunjukkan manusia jaman dulu memang
peralatan sederhana menurut perspektif kita, namun fakta tak terbantah
karya mereka luar biasa dan membuat kita di jaman ini berdecak kagum.
Ingat bagaimana piramid di Mesir didirikan? Atau kemegahan Bait Allah?
(Markus 13:1). Ditemukan batu besar dan keras sebagai bagian dari
bangunan yang berukuran sekitar 2x2, dengan panjang 4 meter. Bagaimana
memotongnya rata dan membuatnya seperti sebatang kayu? Atau pembangun
gua didinding batu di Petra Jordania yang masuk keajaiban dunia. Memahat
bukit batu dan membangun istana di dalamnya. Semua ini terjadi sebelum
masehi. Keajaiban alam sekaligus keajaiban tiap jaman memang
mengagumkan. Ada banyak keunggulan dulu yang tidak lagi ada di masa
kini. Ada yang bisa dibangun jaman dulu, tapi tidak lagi jaman sekarang.
Paling tidak, bahannya sudah tak lagi ada tersedia di alam ini. Ini
adalah anugerah umum yang Allah berikan pada umat manusia.
Ketiga,
soal apakah kitab kejadian dan pembuatan bahtera adalah khayalan si
penulis? Penulis kitab Kejadian adalah Musa, putra Israel yang
dibesarkan di istana Mesir. Pada waktu itu perempuan Israel melahirkan
tanpa pertolongan bidan, karena semua bidan mendapat perintah membunuh
bayi yang dilahirkan. Pasti, sulit membayangkan melahirkan tanpa
petolongan bidan, dan bukan satu orang. Lagi lagi kejaiban jaman. Musa
adalah orang berpendidikan tinggi, terlatih dalam bernalar, produk
istana, dia jauh dari khayal menghayal. Dia menulis warisan kisah yang
disampaikan secara bertutur dari generasi kegenerasi. Penulis Alkitab
lainnya yang melayani sebelum Masehi, namun ratusan tahun setelah Musa,
juga mencatat kisah Nuh, yaitu Yesaya (54:9), juga Yehezkiel.
Bukan
hanya Musa atau nabi PL yang hidup sebelum Masehi, juga sesudah Masehi,
yaitu Tuhan Yesus sendiri mengutip cerita Nuh yang ada di kitab
Kejadian (band; Matius 24:37-39, Lukas 17:26-27). Kitab Ibrani menyebut
Nuh sebagai orang beriman yang membangun bahtera, yang ada dalam sejarah
tentunya, dan bukan khayalan (Ibrani 11:7). Begitu juga dengan rasul
Petrus dalam suratnya 2 Petrus 2:5. Jadi bukan hanya Musa penulis kitab
Kejadian, tapi para Nabi di PL, rasul d PB, khususnya Tuhan Yesus
sendiri mengatakan kebenaran kisah Nuh. Maka jelas kisah Nuh jauh dari
khayalan bukan.
Saudaraku Michael yang kekasih di dalam Kristus,
Alkitab memang mengagumkam jika diteliti baik-baik. Kebenarannya kuat
dan tak tergoyahkan, saling menjelaskan, melengkapi, menguatkan antara
kitab-kitab yang berjarak dari ratusan hingga ribuan tahun. Dari PL
hingga PB. Ada terlalu banyak data dan fakta sehingga tidak mungkin
untuk mengatakan bahwa Alkitab atau kisah didalamnya ada yang kurang
akurat, apalagi khayalan. Luar biasa ya Alkitab kita. Terus maju
menggali Alkitab, temukan kekayaan iman didalamnya. Semoga jawaban ini
boleh menjadi berkat bagi kita semua, khususnya pembaca REFORMATA yang
setia. Tuhan memberkati kita.