Konsep atau konstruk sikap mengkaitkan
orang terhadap berbagai obyek yang mereka hadapi, yaitu bagaimana
pikiran, perasaan dan kecenderungan perilaku mereka terhadap sesuatu.
Misalnya, terhadap mobil, ada konsumen yang bersikap bahwa mobil adalah
sekedar sarana transportasi. Jika demikian dia bisa tidak memiliki emosi
yang kuat terhadap mobilnya dan cenderung untuk memilih mobil yang
dipersepsi memiliki kinerja yang baik, tidak ada minat untuk mendadani
mobilnya, dan kemungkinan tidak banyak memberikan waktu untuk
mengurusnya. Berbeda dengan sikap pemilik mobil lain, yang memandang
mobil sebagai ekspresi siapa dirinya. Dia akan memilih merek mobil yang
dia bangga memiliki dan mengendarainya. Dia akan banyak memberikan waktu
untuk mobilnya, suka menceritakan kelebihan-kelebihan mobilnya, dan
memberikan banyak waktu untuk memelihara dan mengendarainya.Memahami Sikap-Sikap Kita
Konsep atau konstruk sikap mengkaitkan
orang terhadap berbagai obyek yang mereka hadapi, yaitu bagaimana
pikiran, perasaan dan kecenderungan perilaku mereka terhadap sesuatu.
Misalnya, terhadap mobil, ada konsumen yang bersikap bahwa mobil adalah
sekedar sarana transportasi. Jika demikian dia bisa tidak memiliki emosi
yang kuat terhadap mobilnya dan cenderung untuk memilih mobil yang
dipersepsi memiliki kinerja yang baik, tidak ada minat untuk mendadani
mobilnya, dan kemungkinan tidak banyak memberikan waktu untuk
mengurusnya. Berbeda dengan sikap pemilik mobil lain, yang memandang
mobil sebagai ekspresi siapa dirinya. Dia akan memilih merek mobil yang
dia bangga memiliki dan mengendarainya. Dia akan banyak memberikan waktu
untuk mobilnya, suka menceritakan kelebihan-kelebihan mobilnya, dan
memberikan banyak waktu untuk memelihara dan mengendarainya.
Terhadap
setiap obyek, seseorang akan memiliki sikap, walau pun ada yang lemah
tapi ada yang sangat kuat. Terhadap Tuhan, misalnya, ada yang tidak
punya sikap yang jelas. Dia tidak banyak mengenal siapa Tuhan, tidak
memiliki emosi yang kuat terhadap Tuhan, dan dalam perilaku akan
menjalani rutinitas ibadah, kalau dia berada di lingkungan gereja.
Sementara Alkitab memerintahkan agar orang percaya membangun sikap
'takut Tuhan': "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah
akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini
adalah kewajiban setiap orang." Pengkotbah 12:13. Orang yang
memiliki sikap yang demikian mengenali natur Allahnya, misalnya
Mahakuasa, Mahahadir, Mahakasih, kudus, dsb yang mempengaruhi bagaimana
perasaan mereka terhadap Allah - apakah dia gentar, hormat, ingin tahu,
ingin dekat, atau emosi lain terhadap Allah. Sebagai bagian dari
sikapnya, seseorang akan memiliki kemungkinan perilaku yang
berbeda-beda. Tidak heran ada orang yang terlihat 'menggebu-gebu' dalam
ibadah dan pelayanan terhadap Tuhan; bahkan meninggalkan segala harta,
jabatan dan keluarganya dalam menjalankan apa yang dia percaya sebagai
panggilannya. Sebaliknya kita juga melihat banyak umat Kristen yang
tidak terlihat bersemangat dalam kehidupan rohaninya. Hadir di kebaktian
tidak disiplin waktu, bahkan mudah sekali skip ibadah karena berbagai
alasan. Memberi persembahan di bawah rata-rata, berat atau tidak
bersedia memberi waktu ambil dalam kegiatan-kegiatan gereja di luar hari
minggu, apalagi dalam pelayanan yang menuntut pengorbanan.
Terhadap sesama manusia, Alkitab berbicara sikap mengutamakan yang lain, seperti terungkap dalam Filipi 2:3 - ... dengan
tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang
lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Mengutamaka orang lain
perlu menyadari paling tidak bahwa mereka juga diciptakan sesuai dengan
gambar Allah. Dengan demikian akan ada perasaan kasih, penghormatan, dan
kekaguman terhadap sesama. Kecenderungan perilaku kita terhadap mereka
akan mengikuti, apakah menghargai, memuji, melayani, dsb.
Contoh
sikap lain yang penting adalah terhadap kepemimpinan; apalagi sebagai
orang percaya, kita adalah pemimpin, yaitu seseorang yang terus menerus
dalam proses mempengaruhi orang lain. Bukankan Alkitab menyatakan kita
adalah 'garam' dan 'terang dunia' (Matius 5:13-16). Seperti pada
obyek-obyek lain, berbagai sikap terhadap kepemimpinan bisa terbangun
dalam diri seseorang dan dapat ini dilihat dari berbagai faktor. Dalam
kepemimpinan, maka faktor-faktor sikap yang penting adalah orientasi
mereka terhadap penyelesaian tugas dan terhadap tim yang mereka pimpin.
Dalam hal pertama, seorang pemimpin bisa tidak mengarahkan sama sekali
sehingga terjadi apa yang sering disebut 'auto pilot' hingga sikap yang
sangat kuat mengarahkan. Sementara sikap pemimpin terhadap tim bisa sama
sekali tidak ada, tidak peduli hingga sikap yang sangat mendukung.
Idealnya seorang pemimpin mengarahkan timnya kepada tujuan bersama
secara kuat dan sekaligus mendukung tim dalam menjalankan fungsi
masing-masing. Dengan demikian tujuan tim tercapai dalam kebersamaan
yang bisa mereka nikmati.
Namun
dalam keterbatas seorang pemimpin, sering mereka memiliki sikap yang
tidak secara seimbang optimal seperti itu. Ada pemimpin yang lebih
berorientasi kepada tujuan tapi tidak peduli dengan permasalahan timnya.
Tanpa teamwork, maka rencana bisa gagal, atau kalau tercapi tidak
maksimal dalam pencapaian target dan/atau dalam pembangunan tim. Ekstrim
yang lain seorang pemimpin memiliki sikap yang sangat memperhatikan
timnya tapi lemah dalam sikap terhadap penyelesaian tugas. Dan yang
paling buruk sikap yang lemah dalam kedua faktor, tidak mengarahkan ke
pencapaian tugas dan tidak memperhatikan tim.
Dengan
berbagai contoh sikap yang dibahas, yaitu terhadap mobil, Tuhan,
sesama, dan kepemimpinan kita belajar pentingnya menyadari berbagai
sikap yang terbentuk dalam diri kita terhadap hal-hal penting dalam
kehidupan kita. Kita bisa tambahkan obyek-obyek sikap penting seperti
keluarga, bisa lebih khusus terhadap pasangan, anak, orang tua, dsb;
terhadap pekerjaan; terhadap pelayanan; terhadap gereja; terhadap
perusahaan; terhadap uang; dsb, dsb. Kita perlu mencoba menganalisa
faktor-faktor sikap yang penting terhadap masing-masing obyek dan
membangun sikap yang benar dalam faktor-faktor penting itu. Tuhan
memberkati!
Iklan
