Janganlah hendaknya kamu kuatir
tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu
kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai
sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan
pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4:6-7Memahami Takut
Janganlah hendaknya kamu kuatir
tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu
kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai
sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan
pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4:6-7
Dalam
membahas sikap terhadap Covid-19 pada tulisan yang lalu, penulis
menekankan pentingnya berdoa untuk mendukung sikap yang sehat
berdasarkan ayat Filipi 4:6-7. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana
kita mengalami damai di tengah Covid-19 dengan segala krisis yang
diakibatkan dari ayat yang sama.
Setiap
orang mengalami kawatir, takut, cemas - tiga kata negatif yang terkait
eratdan saling digunakan sebagai sinonim. Dalam krisis sekarang ini kita
mengalami takut banyak hal sekaligus, masalah kesehatan, ancaman
kematian, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan, keamanan keluarga,
dsb. Ketika kita takut, kawatir, cemas maka kita kehilangan damai dan
sukacita. Karena kita perlu memahami mengenai hal ini dan bagaimana kita
menghadapinya.
Agar lebih memahami
dan menangani emosi negatif ini, kita bisa membedakan ketiga kata.
Khawatir ('worry') berbicara tentang segi kognitif atau berpikir tentang
masalah atau ketakutan yang menyebabkan rasa takut itu. Khawatir adalah
berpikir tentang hal-hal di depan yang menciptakan perasaan cemas.
Khawatir ada proses berpikir. Berpikir hal-hal yang membangunkan
ketakutan akan mencuri sukacita kita.
Takut
('fear') itu sendiri adalah respon emosi terhadap suatu ancaman yang
benar-benar ada, misalnya penyakit berat yang dialami, atau ancaman yang
dibayangkan, misalnya membayangkan mengalami Covid-19 dan dirawat di
rumah sakit. Dengan berpikir ancaman-ancaman itu menimbulkan perasaan
negatif takut itu. Dan ini akan mencuri waktu kita sekarang karena
ketika kita merasa takut bisa menyebabkan kita kehilangan kekuatan untuk
menikmati dan melakukan hal-hal yang perlu kita lakukan sekarang.
Sedangkan
kecemasan adalah antisipasi terhadap ancaman-ancaman ke depan. Kita
cemas kapan Covid-19 akan selesai, akan kehilangan pekerjaan, akan
mengalami gangguan kesehatan, dsb. Ketika kita cemas, dia akan mencuri
damai kita.
Setiap orang mengalami
kuatir. Sejumlah 7,3% atau 1 dari 13 orang menderita masalah kecemasan,
khawatir yang sudah kronis (parah). Tidak heran Alkitab banyak berbicara
tentang takut, khawatir dan cemas yang menunjukkan perhatian Tuhan
terhadap masalah ini. Bisa dipahami karena takut ini mencuri anugerah
Allah hidup dengan damai sejaterah dan sukacita-Nya. Bahkan ada yang
mengatakan kalau dalam Alkitab ada 365 ungkapan 'Jangan takut!'
seolah-olah Tuhan sangat sadar kekhawatiran yang dialami manusia dan
mengingatkan dan memberikan dorongan setiap hari agar tidak takut.
Kita
mengenal tiga jenis takut. Pertama, takut akan ancaman yang nyata
sehingga kita bereaksi menghindarkan ancaman itu. Misalnya kita bahaya
infeksi virus Corona, karena itu kita tinggal di rumah, sering cuci
tangan, menjaga jarak dengan orang lain dan menjaga kesehatan. Ini
adalah takut yang sehat, yaitu takut yang melindungi diri dari bahaya
(Amsal 27:12).
Jenis kedua adalah
'takut Tuhan' yang sudah pernah kita bahas dalam tulisan terpisah. Takut
Tuhan adalah sikap yang menghormati Tuhan karena siapa Dia adalah
Allah. Sikap ini memiliki dampak luas karena berhubungan dekat dengan
iman kepada Dia, takut melakukan dosa; menghormati otoritas yang Tuhan
tetapkan, yaitu keluarga, gereja dan pemerintah. Ini adalah takut yang
sehat dan membawa segala berkat Allah (Misal, Amsal 19:23).
Takut
jenis ketiga bisa disebut takut kronis, tidak sehat karena tidak jelas
lagi penyebabnya. Kita tahu takut ini dimulai dari dosa dan dari sitasi
yang dialami, didengar atau diasumsikan. Takut kronis potensi menjadi
kecemasan, stres dan depresi. Takut kronis membuat kita kehilangan
kekuatan, sehingga tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Jelas Allah tidak menghendaki kita memiliki roh takut seperti ini (2 Tim
1:7).
Refleksi kita, apakah Anda
memiliki rasa takut yang sehat dan baik, yaitu takut yang protektif atau
melindungi dan takut akan Allah? Sebaliknya, apakah kita menderita rasa
takut kronis yang tidak sehat? Takut yang sehat perlu kita bangun dan
takut yang tidak sehat perlu kita atasi.
Kita
mau belajar bagaimana menghadapi khawatir dari Paulus pada tulisan
berikut. Paulus punya alasan untuk khawatir - usia sudah lanjut,
dipenjara Roma tanpa kejelasan apa akan bebas atau akan dihukum mati.
Tapi dia mempunyai rahasia yang dia bagikan dalam suratnya kepada jemaat
di Filipi agar tidak khawatir tapi mengalami damai sejati. Rahasia
mengatasi khawatir adalah doa dalam bentuk khusus seperti Paulus tulis
dalam Filipi 4:6-7 dan akan kita bahas pada tulisan berikut. Tuhan Yesus
memberkati!
Iklan
