Dan segala sesuatu yang kamu lakukan
dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama
Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kol 3:17Orang Percaya Bekerja Dengan Kasih
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan
dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama
Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kol 3:17
Kolose 3:17 adalah salah satu ‘ayat
hafalan’ kita ketika kita berpikir tentang bagaimana orang percaya
bekerja. Dalam praktek bagaimana kita bekerja berdasarkan ayat yang
berbicara tentang melakukan ‘dalam nama Tuhan Yesus’ itu, kita membahas
dalam dua tulisan sebelumnya, yaitu bekerja dengan ‘excellent’ dan
dengan ‘integritas.’ Ini bukan sekedar prinsip-prinsip umum bagaimana
kita bekerja, tapi lebih penting adalah motivasi kita, karena kita
sedang melakukannya ‘dalam nama Tuhan Yesus.’
Ketika berbicara melakukan sesuatu dalam
nama Tuhan Yesus, maka ini tidak bisa lepas dari natur utama Tuhan
Yesus, yaitu ‘kasih.’ Kasih Kristus memiliki dua arah, yaitu kepada
Allah dan kepada sesama. Kasih-Nya telah nyata dalam kerja dan
pengorbanan-Nya di kayu salib. Dalam tulisan kali ini, kita akan
membahas prinsip bekerja orang percaya adalah untuk mengasihi sesama.
Alkitab memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti kita
mengasihi diri sendiri – kasih yang sejati (Matius 22:39). Sementara 1
Tesalonika 1:3 berbicara mengenai ‘usaha kasihmu’ atau dalam terjemahan
Bahasa Inggris King James adalah ‘labour of love’ dan dalam terjemahan
NIV ‘labor prompted by love.’ Ini berbicara ketika ‘bekerja’ dalam
bentuk apapun, baik dalam pekerjaan pelayanan tapi juga termasuk bekerja
sekular.
Orang percaya bekerja harus dengan
motivasi kasih kita kepada sesama, karena Allah telah mengasihi kita
terlebih dahulu. Kasih memotivasi ketika kita melakukan apa saja
termasuk bekerja. Dengan kasih kita bekerja keras. Kasih itu adalah
kasih ‘agape,’ yaitu kasih yang tanpa syarat, kasih yang berkorban,
berpusat pada kemauan, dan ditampilkan dalam perbuatan. Karena itu
ketika kita bekerja, kita bekerja keras, menyangkal diri, rela berkorban
dan beorientasi kepada kebaikan sesama, baik rekan kerja maupun
pelanggan kita.
Dengan motivasi seperti ini kita akan
mampu bekerja ‘excellent’ di tengah tantangan-tantangan yang berat
sekali pun. Kita mengasihi sesama melalui sikap, perkataan dan perbuatan
kasih dalam wujud melayani mereka, yaitu mengusahakan kebaikan mereka.
Kepada team kita memberikan bimbingan yang maksimal, kepada atasan kita
memberikan kinerja terbaik, kepada team kita memberikan kontribusi yang
istimewa.
Dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu aspek
melayani sangat menonjol, misalnya dalam pekerjaan sebagai dokter,
perawat, pengajar, polisi, dsb. Namun sebenarnya semua pekerjaan yang
baik membawa berkat bagi sesama baik secara langsung maupun tidak
langsung. Orang percaya memiliki tanggung-jawab untuk memilih pekerjaan
yang menjadi berkat dalam bentuk apapun tapi tidak bekerja di usaha yang
mencelakakan sesama, seperti pada produksi dan distribusi narkoba,
rokok, dsb. Bekerja di industry seperti ini adalah kontradiksi dengan
nilai kasih ilahi.
Dan semua pekerjaan yang benar
memberikan kesempatan bagi orang percaya untuk mengasihi dan melayani
sesama. Sekalipun kita mendapatkan gaji dari perusahaan dalam iman, kita
melayani mereka, apakah pelanggan internal – atasan kolega, bawahan;
atau pelanggan eksternal, yaitu pelanggan langsung. Semangat melayani
harus kita tampilkan dalam semua aspek kerja kita. Dengan memberikan
layanan ‘excellent’ atau ekstra, kita menampilkan semangat melayani itu
(Matius 5:41).
Di samping kita melihat manusia dengan
cara pandang Kristus, yang berbelas-kasih kepada manusia, khususnya
mereka yang ‘terhilang.’ Bekerja di tengah lingkungan sekular adalah
kesempatan menyaksikan kasih Kristus melalui perilaku kita maupun
kesaksian verbal kita ketika Tuhan membuka kesempatan. Dengan intensitas
bertemu yang tinggi, kita lebih sering bertemu dengan rekan kerja
daripada teman gereja, memberi kesempatan yang luar biasa orang lain
berinteraksi dengan orang percaya.
Para profesional yang tidak mengenal
Tuhan juga menyadari pentingnya pelayanan, ketulusan, empati, ‘kasih’
dalam menjalankan bisnis. Sebuah bank pemerintah, misalnya, pernah
menggunakan tagline ‘Melayani dengan Setulus Hati.’ Motivasi perusahaan
melayani dengan baik semata-mata adalah untuk kinerja yang baik dan
keuntungan pribadi atau perusahaan. Sementara motivasi orang percaya
melayani dengan kasih adalah sebagai syukur atas kasih Allah dan
mewujudkan kasih Allah kepada sesama. Kita menjadikan pekerjaan kita
sebagai wujud dari ibadah kepada Allah.
Bagaimana kita telah bekerja selama ini?
Apakah kita telah bekerja dalam nama Tuhan Yesus dengan motivasi kasih
kepada sesama? Apakah kasih kita kepada Allah dan sesama tampak nyata
dalam perilaku kerja kita di mata sesama di sana? Tuhan memberkati!
Iklan
