Siapa yang tidak pernah marah? Dari
bayi, anak kecil, orang muda, dewasa hingga tua manusia bisa marah.
Marah adalah pengalaman emosi yang wajar, namun apa yang kita lakukan
ketika marah terjadi mudah membawa kepada perbuatan dosa, karena itu
Alkitab memperingatkan kita agar tidak marah yang berlama-lama (Efesus
4:26). Allah dalam Perjanjian Lama sering dikisahkan marah kepada orang
Israel yang bersungut-sungut, yang melakukan dosa tertentu, atau
menyembah berhala. Yesus beberapa kali diceritakan marah kepada orang
lain, seperti kepada orang-orang Israel yang berjual-beli di Bait Allah
(Matius 21:12-16). Allah marah karena alasan yang benar. Oleh karena itu
kita juga seharusnya marah ketika melihat atau mendengar mengenai
hal-hal yang tidak benar atau perbuatan-perbuatan dosa, seperti korupsi,
kekerasan, ketidakadilan, pornografi, dsb. Justru ketika kita tidak
marah, kita menjadi salah.Tujuh Dosa Maut Amarah
Siapa yang tidak pernah marah? Dari
bayi, anak kecil, orang muda, dewasa hingga tua manusia bisa marah.
Marah adalah pengalaman emosi yang wajar, namun apa yang kita lakukan
ketika marah terjadi mudah membawa kepada perbuatan dosa, karena itu
Alkitab memperingatkan kita agar tidak marah yang berlama-lama (Efesus
4:26). Allah dalam Perjanjian Lama sering dikisahkan marah kepada orang
Israel yang bersungut-sungut, yang melakukan dosa tertentu, atau
menyembah berhala. Yesus beberapa kali diceritakan marah kepada orang
lain, seperti kepada orang-orang Israel yang berjual-beli di Bait Allah
(Matius 21:12-16). Allah marah karena alasan yang benar. Oleh karena itu
kita juga seharusnya marah ketika melihat atau mendengar mengenai
hal-hal yang tidak benar atau perbuatan-perbuatan dosa, seperti korupsi,
kekerasan, ketidakadilan, pornografi, dsb. Justru ketika kita tidak
marah, kita menjadi salah.
Namun marah yang dibiar-biarkan dan
bahkan dikembangkan, tidak dipadamkan, akan potensi menjadi jenis marah
yang masuk dalam kelompok ‘Tujuh Dosa Maut.’ Situasi demikian membuka
kesempatan bagi Iblis untuk membawa kita kepada marah yang dosa itu
(Efesus 4:27). Marah yang termasuk dosa maut dalam Bahasa Latin adalah
‘ira,’ diterjemahkah menjadi ‘wrath’ dalam Bahasa Inggris atau ‘amarah’
dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah marah yang ekstrim, marah yang
berdosa. Ketika seseorang mengalami amarah, emosi demikian kuat
menguasai dirinya sehingga ini bisa menimbulkan penyangkalan akan
kebenaran, ketidak-sabaran, balas dendam, dan niat berbuat jahat bahkan
membunuh orang yang membangkitkan kemarahannya.
Seorang yang pemarah cepat dikuasai
emosi marah, untuk alasan-alasan yang kecil sekali pun. Dia melampiarkan
kemarahannya dengan perkataan atau/dan perbuatan yang menyakiti hari
orang lain tanpa berpikir panjang. Dosa amarah ini termasuk ‘dosa maut’
atau dosa yang keji karena bertentangan dengan karakter utama Allah yang
Dia mau bentuk dalam diri manusia, yaitu kasih. Dosa kemarahan manusia
membawa kepada kejahatan (Mazmur 37:8).
Ketika dikuasai amarah, maka manusia
dikuasai emosi, dan dalam keadaan demikian, manusia tidak menggunakan
akal pikirannya. Dosa amarah paling potensi melukahi orang-orang lain,
melalui kata-kata yang tajam atau tindakan yang kejam, apalagi kalau
jika dikombinasi dengan dosa lain. Misalnya, ketika seseorang berdosa
amarah dan iri, maka dia bisa membunuh atau merampok. Seorang percaya
yang pemarah merusak kesaksian kasih Allah akan manusia. Dia tidak
menampilkan pribadi Allah yang seharusnya, bahkan sangat berlawanan.
Oleh karena amarah adalah dosa, maka
langkah pertama dalam mengatasinya adalah menyadari bahwa kita telah
hidup dalam dosa amarah dan bertobat dari cara hidup demikian. Menyadari
ini adalah dosa, meminta ampun kepada Tuhan atas kemarahan yang telah
dilakukan, dan berkomitmen untuk berhenti marah, yaitu marah yang tidak
benar.
Jalan untuk menyingkirkan sikap dan
kebiasaan marah adalah dengan membangun buah Roh dalam hidup kita,
dimana salah manifestasinya adalah, antara lain, kesabaran,
kelemah-lembutan dan kasih – beberapa karakter yang bertentangan dengan
amarah (Gal 5:22). Kesabaran adalah atribut lawan kemarahan yang
menolong kita menyelesaikan konflik dengan damai daripada dengan
kekerasan, bahkan memampukan kita untuk tetap berbuat baik kepada orang
lain lawan konflik kita. Kesabaran menolong kita menerima karunia
mengampuni dan menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Ketika kita
diampuni maka dengan iman kita bisa minta agar Roh Kudus menguasai diri
kita dan menjadikan pribadi dengan karakter Kristus itu (Efesus 5:18).
Di luar ini, kita perlu hikmat dalam
gaya hidup kita, sehingga dalam diri kita tidak berkembang sikap dan
kebiasaan marah. Amsal, misalnya, mengajarkan kepada kita agar tidak
berteman dengan pemarah, agar kita tidak meniru perilaku pemarahnya
(Amsal 22:24-25). Hal lain yang menolong adalah menghafalkan ayat
‘favorit’ yang mengingatkan dan menolong kita ketika kita mengalami
marah. Misalnya, Efesus 4:26-27 – “Apabila kamu menjadi marah,
janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam
amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
Kita bisa mengembangkan sikap yang
menolong menangani kemarahan, yaitu sikap mengampuni. Allah yang layak
marah karena melihat manusia ciptaan-Nya, bahkan yang sudah Dia
selamatkan dengan pengorbanan yang besar – kematian Anak-Nya, Yesus
Kristus – tapi mereka terus saja berbuat dosa, bahkan dosa yang
seringkali sangat keji. Namun Dia adalah Allah yang pengampun, satu
atribut Allah yang sangat utama dalam Alkitab, seperti dituliskan dalam
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Hampir setiap orang melakukan dosa maut
amarah itu. Oleh karena itu, kita perlu bertobat dari dosa ini, dan
terus menjauhi satu dosa maut ini, bertumbuh dalam buah Roh dan gaya
hidup yang membantu menyingkirkan dosa amarah itu. Tuhan memberkati!
Iklan
